Total Tayangan Halaman

cloud labels

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Kontributor

Mobile Logo Settings

Mobile Logo Settings
image

Tags

Tampilkan postingan dengan label Entertainment. Tampilkan semua postingan

Trend Belanja Thrifting: Menuai Larangan Dari Pemerintah

Trend Belanja Thrifting: Menuai Larangan Dari Pemerintah


Tren belanja thrifting atau belanja barang bekas semakin mendominasi pasar konsumen saat ini. Dari pakaian hingga perabotan rumah tangga, banyak orang beralih ke opsi ini untuk mencari barang berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau. Namun, popularitas tren ini tidak luput dari perhatian pemerintah. 


Belanja thrifting menawarkan sejumlah keuntungan yang menjadikannya pilihan menarik bagi banyak orang. Pertama-tama, faktor ekonomi memainkan peran besar. Dalam ekonomi yang fluktuatif, banyak konsumen mencari cara untuk mengatur anggaran mereka dengan lebih bijak. 


Belanja barang bekas memungkinkan mereka memperoleh barang berkualitas tanpa harus menghabiskan banyak uang. Selain itu, belanja thrifting juga memberikan kesempatan untuk menemukan barang unik dan antik yang sulit ditemukan di toko-toko ritel konvensional.


Dampak Larangan Pemerintah

Meskipun popularitasnya, trend belanja thrifting tidak luput dari perhatian pemerintah. Beberapa negara telah menerapkan larangan terhadap impor barang bekas dalam upaya untuk melindungi industri domestik dan mengurangi dampak lingkungan. 


Larangan semacam ini umumnya diterapkan untuk barang-barang tertentu, seperti pakaian bekas, untuk mendorong masyarakat agar lebih memilih produk-produk dalam negeri. Namun, larangan semacam ini juga berdampak pada kemungkinan hilangnya akses konsumen terhadap pilihan belanja yang terjangkau.


Alternatif Berkelanjutan: Menghadapi Larangan dengan Bijak

Walaupun ada larangan impor barang bekas, bukan berarti pilihan berkelanjutan harus terhenti disini. Ada beberapa alternatif yang dapat diambil oleh masyarakat untuk tetap berpartisipasi dalam gaya hidup berkelanjutan :

  1. Belanja Lokal : Dukung pengusaha lokal dengan memilih produk-produk lokal yang berkualitas. Ini tidak hanya membantu ekonomi lokal tetapi juga mengurangi dampak lingkungan karena jarak pengiriman yang lebih pendek.

  2. Donasi dan Penukaran Barang : Alihkan barang-barang bekas Anda melalui donasi atau penukaran di komunitas lokal. Ini adalah cara yang baik untuk memberi barang-barang tersebut "kehidupan kedua”.

  3. Upcycling dan DIY : Kreativitas dapat berperan disini. Cobalah untuk mengubah barang bekas menjadi produk baru dengan upcycling atau melakukan proyek do-it-yourself (DIY).

  4. Berbagi Ekonomi : Platform berbagi ekonomi seperti aplikasi sewa atau pinjam juga dapat menjadi alternatif yang berkelanjutan, dimana kamu dapat menggunakan barang-barang hanya ketika membutuhkannya.


Kesimpulan

Tren belanja thrifting telah menjadi bagian penting dari gaya hidup berkelanjutan modern. Meskipun beberapa larangan impor barang bekas telah diterapkan oleh pemerintah, ini tidak menghentikan semangat masyarakat untuk tetap berpartisipasi dalam gaya hidup yang berkelanjutan. Dengan memilih alternatif berkelanjutan, kita dapat tetap mendukung lingkungan dan ekonomi lokal tanpa mengorbankan kualitas dan keragaman produk yang kita nikmati.


Mengenal Budaya FOMO di Kalangan Milenial dan Gen-Z. Apakah Kamu Salah Satunya?

Mengenal Budaya FOMO di Kalangan Milenial dan Gen-z. Apakah Kamu Salah Satunya?


Apakah kamu pernah mendengar kata FOMO di media sosial belakangan ini? Dengan maraknya berbagai kejadian yang terjadi, kata FOMO ini seringkali muncul di berbagai media sosial dan digunakan untuk mendeskripsikan “ketertinggalan”. Singkatnya, FOMO merupakan akronim dari (Fear of Missing Out) yang jika diartikan, munculnya perasaan resah dan takut akan ketertinggalan dari suatu trend atau hal-hal yang dibicarakan orang banyak tanpa diketahui. Menurut kamus Merriam-Webster, FOMO diartikan sebagai “fear of not being included in something (such as an interesting or enjoyable activity) that others are experiencing”. Jadi bisa dikatakan kalau istilah FOMO ini muncul karena rasa takut dan kekhawatiran sendiri karena merasa asing dengan pengalaman yang banyak orang lain rasakan.

Budaya FOMO ini seringkali digunakan dalam konteks trend dan gaya hidup di kalangan milenial dan Gen-Z. Sebagai contoh, ketika konser Blackpink digelar di Jakarta pada Maret lalu, banyak dari kalangan penggemar K-Pop menggunakan istilah ini untuk melabeli non penggemar K-Pop yang turut meramaikan konser tersebut dengan membeli tiket untuk menonton. Label FOMO disematkan kepada orang-orang yang turut menonton namun melakukan tindakan yang merugikan penonton lainnya yang notabenenya didominasi oleh BLINKS; sebutan bagi penggemar Blackpink. 

Lalu, kalau contoh kasus yang paling sering dijumpai di sehari-hari itu bagaimana ya? Buat kamu yang masih termasuk ke dalam golongan milenial dan Gen-Z, kamu pasti pernah merasa minder atau overthinking kan tentang pencapaian teman sejawatmu atau sekadar melihat kehidupan orang lain di media sosial? Nah, perasaan itulah yang disebut FOMO karena kamu merasa tertinggal dan berharap berada di situasi atau phase yang sama dengan mereka. Akibatnya, muncullah budaya hustling yang menimbulkan situasi yang menormalisasikan overwork dan workaholic menjadi sesuatu yang membanggakan. Padahal, langkah setiap orang berbeda-beda, kan? Tidak seharusnya kita membandingkan diri dengan langkah orang lain karena bagaimanapun, titik mulai setiap orang pun tidak ada yang sama. 

Lantas, apakah ada cara agar kamu gak terjebak di budaya FOMO ini? Ada banget, dong! Berikut tips-tips agar kamu bisa menghalau perasaan FOMO dan sedikit demi sedikit bisa lebih damai dengan kehidupan kamu.

  1. Kurangi frekuensi menggunakan media sosialmu ketika ada kesempatan. Misalnya ketika kamu sedang berlibur, coba manfaatkan waktumu untuk benar-benar menikmati waktu liburan tersebut dengan menjauhkan gadgetmu hanya untuk sekedar scrolling media sosial. Atau ketika tidak sedang liburan pun, kamu bisa mengatur waktu untuk menggunakan media sosialmu hanya ketika benar-benar dibutuhkan dan berfokus lebih kepada apa yang kamu kerjakan.

  2. Perbanyak waktu bersosialisasi secara langsung dibanding membuka media sosial. Percakapan yang dilakukan secara langsung tidak akan membuatmu merasa FOMO karena kamu bisa membicarakan kehidupan lawan bicaramu dari seluruh sisi, tidak hanya dari sisi baiknya saja. Dari perbicaraan tersebut, kamu pasti mengetahui kalau phase mereka saat ini telah melalui berbagai macam rintangan. 

  3. Mencoba untuk berani mengatakan “tidak” apabila ada yang mengajak atau menyuruhmu melakukan hal-hal yang tidak biasanya kamu lakukan. Sebagai contoh, apabila ada yang mengajakmu menonton konser seorang musisi yang tidak begitu kamu sukai, sangatlah wajar apabila kamu menolak ajakan mereka. Jangan hanya karena teman-temanmu menonton, maka kamu juga  harus menonton. 

Jadi begitulah peeps mengenai budaya FOMO yang sedang marak di tengah generasi Milenial dan Gen-Z. Apakah kamu pernah merasakan FOMO?

Referensi:

Anggraeni, Ellynda. 2021. “Fear of Missing out (FOMO), Ketakutan Kehilangan Momen.” Www.djkn.kemenkeu.go.id. June 8, 2021. https://www.djkn.kemenkeu.go.id/artikel/baca/13931/Fear-Of-Missing-Out-FOMO-Ketakutan-Kehilangan-Momen.html. 

Laurence, Emily . 2022. “The Psychology behind the Fear of Missing out (FOMO).” Forbes, September 30, 2022. https://www.forbes.com/health/mind/the-psychology-behind-fomo/. 

Media, Kompas Cyber. 2023. “Arti FOMO, Bahasa Gaul Yang Lagi Viral Belakangan Ini Di Twitter Halaman All.” KOMPAS.com. March 16, 2023. https://tekno.kompas.com/read/2023/03/16/15450077/arti-fomo-bahasa-gaul-yang-lagi-viral-belakangan-ini-di-twitter?page=all. 



Ini Dia Tipe-tipe Karakter Online Shopper Berdasarkan Kebiasaan Bersosial Media, Kamu yang Mana?

Ini Dia Tipe-tipe Karakter Online Shopper Berdasarkan Kebiasaan Bersosial Media, Kamu yang Mana?




Media sosial adalah wadah digital yang digunakan oleh penggunanya untuk dapat berinteraksi jarak jauh dengan membentuk jaringan komunikasi yang dapat diakses secara publik. Dalam bermedia sosial, penggunanya diharuskan membuat akun pribadi yang akan menjadi identitasnya dalam berinteraksi di platform terkait. Ngomong-ngomong identitas nih peeps, walaupun gak jarang pengguna media sosial ini memalsukan identitasnya, tapi karakter pemilik akun setiap media sosial ini ternyata mempengaruhi karakter mereka dalam berbelanja online, loh! Kira-kira dari analisis seru-seruan ini, kamu yang mana?


  1. Si Instagrammable

Siapa sih di antara kamu peeps yang gak pakai media sosial Instagram? Kayaknya sedikit banget deh masyarakat Indonesia yang gak pakai Instagram. Berdasarkan data dari Napoleon Cat, negara Indonesia adalah negara keempat teratas sebagai pengguna Instagram terbanyak dengan jumlah 106,72 juta akun per Februari 2023. Fitur Instagram yang dibuat untuk menyajikan postingan secara visual, sudah pasti sedikit banyak mempengaruhi karakteristik penggunanya dalam berbelanja online. Karakteristik pengguna Instagram sebagai konsumen yang paling menonjol adalah, mereka cenderung sangat picky dan up-to-date karena katanya, “being instagramable is number one!” Dimanapun, kapanpun, harus camera ready dong! Mau tau brand apa aja yang dipakai? Cek tagged account aja deh di foto.


  1. Si Selebtwit

Spill the tea dong Kak, kalau Tweeps alias pengguna Twitter ini karakternya gimana? Berbeda dengan pengguna Instagram yang anaknya visual banget, Tweeps ini lebih suka merangkai kata-kata lewat “Sebuah Utas” yang mungkin kamu sering lihat di tampilan beranda Twitter-mu. Nah preferensi mereka dalam berkata-kata ini mempengaruhi karakter mereka dalam berbelanja online loh peeps. Mereka cenderung akan ngecek review pembeli lain dulu sebelum memutuskan untuk beli atau enggak. Bintang 3.5/5? Duh kayaknya buat para Tweeps ini langsung di skip aja deh. Bintang 4.8/5? Keranjang kuning auto penuh! 


  1. Si Pinterest Aesthetic

Platform satu ini pasti gak asing buat generasi muda-mudi kekinian yang butuh banyak inspirasi dalam desain atau bergaya. Yep, Pinterest pasti jadi jawaban akhir buat segalanya yang berhubungan dengan “inspirasi” karena beragamnya hasil yang muncul. Nah dengan kemudahan dan variatifnya desain serta karya yang diunggah di Pinterest, pengguna sejati media sosial ini sudah pasti sangat mengutamakan visual. Mirip-mirip sama Instagram, tapi Pinterest ini udah next level karena jumlah interaksinya gak sebanyak di Instagram. Ini artinya, pengguna Pinterest cenderung lebih individualis karena biasanya fitur yang dipakai cuma search-save-pinned to board-scroll-pinned to board dan seterusnya. Ini mempengaruhi cara mereka berbelanja online loh, peeps. Stylish iya, tapi gak mesti up-to-date banget, alias mereka punya trademark tersendiri dalam membeli dan menilai sesuatu. Coba cek deh di antara teman-teman kamu, bener gak sih mereka ini unik dalam membeli sesuatu secara online?


  1. Si Selebtok

Kamu punya teman yang serba tau barang lucu dan berguna plus murah? Coba cek akun TikToknya deh, lalu klik keranjang kuningnya. Yep, bisa dipastikan akun utamanya ada di TikTok deh. Kalau kamu sering liat yang live streaming TikTok sambil jualan, ya itulah alasan utama kenapa si TikTokers ini hantam banget sama yang namanya belanja online. Karakter mereka ini cenderung murah hati dan gak suka gatekeeping loh, peeps! Bahkan uniknya, mereka cenderung suka ngasih informasi sebelum ditanya orang karena banyaknya potongan harga dan bermacam-macamnya barang yang dijual. Apakah kamu salah satunya? 


  1. Si community-driven Facebookers

Hormat dulu deh sama media sosial satu ini yang gak pernah padam popularitasnya. Ibarat “aged like fine wine”, Facebook ini gak pernah ketinggalan zaman, bahkan bisa dibilang selalu berinovasi sehingga bisa bersaing dengan media sosial lainnya yang lebih digandrungi oleh anak muda zaman sekarang. Facebook paham nih masyarakat kebanyakan sekarang lebih suka belanja online dibanding cara konvensional, maka mereka mengembangkan fitur digitalnya dengan meluncurkan Facebook Marketplace sebagai pengembangan dari Facebook Group. Kerennya, marketplace yang disediakan Facebook ini cakupan segmentasinya luas banget! Ada yang jualan targetnya business to consumer, ada yang business to business, sampai consumer to consumer. Poin plusnya adalah, marketplace di Facebook ini secara otomatis mengarahkan pengguna untuk menelusuri barang carian di wilayah sekitarnya yang terdekat. Sesuai dengan Facebook yang bisa bersaing dengan caranya sendiri nih, penggunanya juga kecipratan karakter yang sama. Facebookers ini cenderung memiliki karakter yang objektif dan menyukai hal-hal konvensional. Kalau klik sama barangnya, gaspol COD-an aja gan!


Jadi, udah tau belum nih karakter kamu yang mana peeps? Cek juga teman-temanmu yang lain, bener gak sih analisis seru-seruan ini terjadi di sekitarmu? Perlu diingat ya peeps, konten di atas bersifat hiburan semata aja. Jangan sampai temanmu kebingungan karena tiba-tiba diberi label “Si Facebookers” hanya karena dia bergaya vintage, hihi.



Referensi

Fat Bit Technologies. 2015. “Clone Worthy Script Features to Create P2P Handmade and Unique Goods Marketplace.” FATbit Blog. April 17, 2015. https://www.fatbit.com/fab/clone-worthy-script-features-create-unique-p2p-handmade-goods-marketplace/. 

Ku, Mary. 2016. “Introducing Marketplace: Buy and Sell with Your Local Community - about Facebook.” About Facebook. October 3, 2016. https://about.fb.com/news/2016/10/introducing-marketplace-buy-and-sell-with-your-local-community/. 

Media, Kompas Cyber. 2022. “Cara Berjualan Online Di Facebook Marketplace Halaman All.” KOMPAS.com. February 9, 2022. https://money.kompas.com/read/2022/02/09/110100126/cara-berjualan-online-di-facebook-marketplace?page=all. 


Simak 5 Tips Online Shopping yang On Budget dan On Point, Buat Kamu si Kaum Hemat!

Simak 5 Tips Online Shopping yang On Budget dan On Point, Buat Kamu si Kaum Hemat!
















Di zaman yang serba canggih ini, siapa sih yang belum pernah menyentuh marketplace untuk berbelanja? Pengguna cuman rebahan tapi tau-tau barang udah diantar Mas Paket. Instan, gak capek, dan seringkali bikin gak sadar kalau wishlist udah 99+.


Kemudahan ini efisien banget kalau kita bisa menggunakannya dengan bijak. Beda cerita kalau kamu online shopping buat menuhin kalap semata. Bisa dipastikan kalau kemudahan itu malah jadi petaka. Tapi jangan khawatir peeps! Simak 5 tips di bawah ini biar belanja online kamu tetap on budget dan on point.


1. “Aku butuh gak ya barang ini?”

Pertanyaan ini harus sering-sering kamu ucapkan deh peeps. Ini semacam mantra yang ampuh banget untuk menurunkan keinginan kamu ketika mau checkout barang-barang yang ada di wishlist. Coba pikirin mateng-mateng deh peeps, kalau kamu gak beli itu, kamu akan kesulitan gak? Kalau nggak, berarti itu bukan kebutuhan melainkan hanya keinginan semata. Boleh banget kok kalau kamu mau dan bisa membeli keinginan kamu, tapi tetap utamakan penuhi kebutuhan kamu dulu ya!


2. “Budgetku cukup gak ya?”

Mantra nomor 1 sudah dilakukan tapi masih kalap? Mungkin kamu belum tau mantra manjur yang satu ini. 
“Budgetku cukup gak ya?” 
Kalimat ini bukan sembarang kalimat loh peeps. Syaratnya, ketika kamu merapalkan kalimat ini, kamu cek dan listing juga budget yang kamu punya. Dijamin deh, pasti belanja online kamu akan tetap on budget dan on point.


3. “Coba kita lihat olshop sebelah sama gak ya harganya?"

Kecenderungan untuk membandingkan harga di e-commerce satu dan yang lainnya pasti gak bisa dihindarkan sih. Kita pasti akan mencari harga terendah dengan kualitas yang sama, belum lagi ditambah promo diskon tiap e-commerce yang berbeda-beda dan menggiurkan! Nah kebiasaan ini kurang bagus nih peeps karena kita cenderung akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk scroll nyari barang dengan maksud membandingkan harga. Gak cuman itu, kamu pasti sering impulsif kan dengan pilihan barang lain yang bahkan tadinya gak kepikiran untuk beli? Hayo ngaku siapa yang masih sering kayak gini?

4.  "Pay Later atau Pay Sooner ya?"

Siapa yang masih kepikiran untuk bayar belakangan, dapet barang duluan? Eits, tahan dulu deh peeps! Ayo cek lagi, apakah jumlah yang dibayarkan secara dicicil selama 12 bulan besarnya sama dengan bayar pelunasan saat itu juga? Udah pasti nggak dong, karena ada beban bunga dan biaya admin yang memberatkan kamu meskipun pembayaran dilakukan secara angsuran. Belum lagi risiko telat bayar karena hambatan tak diduga. Duh, jangan sampai kamu dikejar-kejar CS-nya sampai pusing sendiri, ya! Bagaimanapun, pembayaran yang dilunasi langsung adalah opsi terbaik ketika kamu belanja online karena gak usah pusing-pusing mikirin cicilan selanjutnya. Jadi, kalau sekiranya opsi pembayaran lunas mustahil dipilih, apa gak sebaiknya kamu pikir lagi sebelum mencicil?

5. Gak salah pilih olshop (online shop) memang!"

Tips terakhir akan sangat membantu niat kamu nih peeps, wahai kaum hemat dan on budget. Pintar-pintar pilih marketplace udah pasti jadi keahlian kaum hemat yang hunting promo dan diskon ongkos kirim biar menekan biaya pengeluaran. Jangan tergiur dengan tawaran cicilan atau promo cashback yang khusus buat penyicil aja. Justru, disitulah iman, ketelitian, dan konsentrasi kamu diuji untuk hitung-hitung cermat dulu sebelum checkout barang. Apa gak sakit hati kalau udah milih nyicil, bunganya besar, taunya barangnya gak sesuai ekspektasi? Duh, kebayang gimana nyeseknya. Coba deh peeps cari marketplace yang kualitas barangnya terjamin, harga paling miring, dan yang pasti gak anti komplain! 
Salah satu marketplace yang menjamin dana pembeli sebelum barang diterima adalah Plasgos. Disitu, kamu gak usah khawatir deh uang kamu gak bisa di refund kalau barangnya gak sesuai. Mereka menjamin uang pembayaran kamu aman karena dana pembeli akan ditahan di rekening Plasgos sebelum barang diterima dan tidak ada komplain. Tunggu apa lagi? Ayo cobain belanja di Plasgos!



Sumber :

Murniati, Desi. 2021. “5 Alasan Sebaiknya Kita Nggak Daftar Dan Pakai Shopee Paylater.” Terminal Mojok. April 27, 2021. https://mojok.co/terminal/5-alasan-sebaiknya-kita-nggak-daftar-dan-pakai-shopee-paylater/. 

detikNews. 2022. “5 Tips Hemat Belanja Bulanan Biar Nggak Kalap & Bikin Kantong Jebol.” Detiknews. December 1, 2022. https://news.detik.com/adv-nhl-detikcom/d-6430343/5-tips-hemat-belanja-bulanan-biar-nggak-kalap--bikin-kantong-jebol.